Kamis, 13 Maret 2014

“100 TAHUN BALA KESELAMATAN DI BUMI TADULAKO”

PENDAHULUAN : 

     Puji syukur bagi Tuhan Yang Maha Pengasih, sehingga pada pertengahan tahun ini, genap sudah  100 Tahun  Bala   Keselamatan berkarya dan melayani di Bumi Tadulako. Tahun yang sempurna kata orang bijak. Yakni kurun waktu 100 tahun [1913 – 2013]. Suatu masa Penatian dan perjalanan yang jauh, panjang, dan melelahkan. Ada sukacita, kegembiraan, dukacita, penderitaan, luapan emosi, tanggis, air mata dan pengorbanan jiwa dan raga berbaur didalamnya. Tidak terhitung pengorbanan yang diberikan para perintis dan pendahulu Bala Keselamatan, untuk kurun waktu se abab itu.
            Boleh jadi saudara bertanya-tanya, tentang sub judul diatas. Mengapa tidak langsung menyebutkan lokusnya di Propinsi Sulawesi Tengah. Mengapa harus di Bumi Tadulako. Sebagai penyaji kami perlu mengklarifikasi penyebutan kata Bumi Tadulako. Berikut ini ada sejumlah alasan yang disodorkan kepada saudara, peminat Majalah Berita Keselamatan ini. a). Didalam kata Sulawesi Tengah, bagi kami terkesan birokrat, amtenar dan struktural. Padahal yang ingin dijangkau untuk presentasi kali ini, adalah masyarakat biasa. b). Kata Tadulako adalah sebuah kata, yang bermakna Kepahlawanan di teritori ini. c). Kata Tadulako lebih membumi, akrab dan mengakar, bagi warga pribumi diteritori itu. d). Kata Tadulako sudah menjadi sebutan resmi yang disepakati, masyarakat kawasan ini. Dengan demikian sebutan Tadulako bukan kata asing, dan kata liar. Seperti nama  Perguruan Tinggi Negeri, dikenal dengan sebutan Universitas Tadulako. Begitu pula Markas Militer Setingkat Komando Resimen, namanya Skorem 132 Tadulako {Jamrin Abubakar}.  
           Karena itu penyebutan Bumi Tadulako, identik atau sama dengan sebutan Sulawesi Tengah itu sendiri dan atau sebaliknya. Kurang lebih bermakna sama dengan penyebutan,  Nanggroe Aceh Darussalam, sebagai Propinsi  Serambi Mekkah. Bali dengan sebutan Propinsi Seribu Dewa. Jawa Barat identik dengan sebutan Tanah Parahiangan.  Serta berbagai sebutan lain untuk daerah besar dan kecil di Nusantara  Raya ini.        
           CATATAN PINGGIR diatas berinfilikasi dengan sejumlah klarifikasi yang perlu diperjelas dan dipertegaskan. Sehingga menjadi terang benderang. Semisal kapan dan dimana lokasi persis untuk Pertama sekali, pelayanan Bala keselamatan itu mulai?. Klarifikasi Kedua siapa saja para perintis, Pelayanan Bala di kawasan lembah Palu itu?. Kemudian disusul dengan klarifikasi Ketiga, Siapa warga pribumi yang menjadi Pengikut dan atau umat Bala di awal mulanya ?. Serta sejumlah deretan pertanyaan, yang mungkin muncul dihati dan pikiran kita. bukan?. The last but not least, “Siapa Warga Pribumi Pertama”, yang merespons dan memberi dukungan, untuk peristiwa bersejarah masa lalu. Sehingga Bala boleh tumbuh, berkembang dan berkarya di Propinsi penghasil  Kayu  Ebony yang  go Internasional itu. 
           Dengan demikian jawaban dan penjelasan itu, boleh menjadi tambahan perbendaharaan dan wawasan anak, cucu dan cicit kita, Seratus tahun yang akan datang. Ketika mereka merayakan 200 tahun Pelayanan Bala Keselamatan lagi. dengan cara dan situasi yang berbeda. Sebagai sesama Prajurit kami berharap, kita dapat merespons suasana lalu itu, dikaitkan dengan situasi kekinian.  Kehidupan yang memberi peluang dan sekaligus tantangan pelayanan bagi Bala Keselamatan Seratus  tahun yang akan datang.
          Untuk semua itu, kami mengajak saudara bersama-sama membaca, menyimak dan memperhatikan catatan tertulis  dalam sejumlah dokumen resmi, yang diterbitkan Kantor Pusat Bala Keselamatan. Serta Buku Ilmu Pengetahuan dan ilmiah lain yang mendukung diskusi perayaan yang kita diskusikan untuk kali ini. Seperti buku: Tua Janggo di Tanah Toraja yang disadur oleh Albert Kenyon. Tiga karya lain:  60 Tahun Bala Keselamatan di Sulawesi Tengah, Zamrud di Khatilistiwa Jilid I dan Jilid II. Sejarah Pipikoro dan Bala Keselamatan di Pipikoro, ditulis oleh Herman D Rigo Guru Pribumi, yang mengabdikan diri sebagai Tenaga Pendidik di era Kolonial hingga awal Kemerdekaan. Sebagai pelengkap dari tulisan ini disajikan juga berbagai pandangan yang terdapat dari Buku: Menggugat Kebudayaan Tadulako & Dero Poso dan Buku kecil berjudul: Orang Kaili Gelisah. Kedua buku terakhir ini ditulis oleh Jamrin Abubakar Wartawan yang mengeluti masalah Sosial dan Budaya Sulawesi Tengah.  

           Sementara itu tiga buah buku yang diterbitkan Kantor Pusat Bala Keselamatan sebelumnya, ditulis oleh Melatie Margaretha Brouwer. Melatie adalah Pendeta Bala Keselamatan. Dia merupakan puteri dari perintis Bala Keselamatan di Indonesia. Ayahandanya Staf Kapten Jacob Gerrit Brouwer. Melatie lahir di pulau Jawa, persisnya dikota  Semarang. Masa Kanak-kanak opsir itu dijalaninya di Negeri Belanda. Sementara  era remaja dilakoninya  kota Beijing Negeri Cina. Melatie melayani selama 35 Tahun di Indonesia. Tahun 1963 Letnan Kolonel Melatie memasuki masa pensiun. Masa purnabakti hingga Tuhan panggil naik  kekemulian, dijalaninya di Melbourne  Australia. Kemudian 2 (Dua) buku 3 (Tiga) buku Melatie diatas, diterjemahkan Drs Willy Leimena M.Pd. Setelah di edit kembali oleh Letnan Dina Ismael.  Ke 2 (dua) buku itu dicetak ulang tahun 1994.   Dalam rangka menyongsong Kongres 100 Tahun Bala Keselamatan di Indonesia.  Kongres yang dilaksanakan di era Kepemimpinan  Komisioner Victor K Tondi. Komisioner Tondi,  Alumni Sekolah Opsir {Pendeta} Bala Keselamatan Melbourne Australia. Pendeta Victor K Tondi, putera kelahiran  Desa Winatu kecamatan Kulawi Kabupaten Sigi. Hamba Tuhan ini tercatat sebagai Pribumi Pertama Kelahiran Bumi Tadulako, yang diberi kepercayaan oleh Jenderal Bala Keselamatan Dunia yang berkantor Pusat di London Inggris. Sebagai Pemimpin Bala Keselamatan di Teritori Indonesia (KPT), sejak 115 Tahun Bala Keselamatan  melayani di Negeri ini.
AWAL MULA PELAYANAN :

  
     Mari kita telusuri apa yang terjadi, di era seratus tahun lalu itu. Mula-mula hadir 2 (Dua) pasang Opsir Bala Keselamatan, membuka pelayaan di Sulawesi Tengah. Pertama Kapten Jensen dengan isterinya Nathalie, Opsir berkewarganegaraan Denmark. Pasangan ini   membuka pelayanan pertama, di Tanah Datar sekitar Palu. Kedua Kapten Ensign Loois dengan isterinya Wilhemmina Beldrink, yang berkewarganegaraan Belanda. Pasangan ini membuka pelayanan didaerah pegunungan di Kulawi. Tiga Setengah Tahun kemudian, disusul lagi oleh pasangan Pendeta berkebangsaan Inggris, Kapten Leonard Woodward dan Isterinya Maggie Low. Pasangan ini membuka pelayanan didaerah pedalaman  di desa Kantewu. Dengan demikian sebagai Gereja yang bersifat Internasional, ternyata  Bala Keselamatan di Bumi Tadulako, sejak awal  sudah dirintis dan  dilayani oleh pasangan  Hamba Tuhan antar bangsa. Yaitu warganegara Denmark, Belanda dan  Inggris. Dikemudian hari di susul lagi, oleh para Pendeta Bala Keselamatan berkewarganegaraan: Australia, Finlandia, Swedia, Jerman   dan  Canada  {Herman D Rigo}.


          Untuk pertama kali, Bala Keselamatan memulai melayani di bumi Rowiga. Persisnya di kampung Sibedi. Kapten Jensen merintis  pelayanan di sebidang tanah Pemberian dan hibah seorang Raja Lokal. Terletak disebelah Barat   jalan Besar. Wilayah yang dahulu disebut Uwetumbu, yang berarti Mata Air. Berada  dibawah sebuah Pohon Beringin Besar. Kini daerah itu dikenal sebagai bagian dari Desa Sibedi berbatasan dengan Desa Beka, kecamatan Marawola Kabupaten Sigi. Pertama  yang dibangun Rumah Opsir (Rumah Pendeta). Kemudian disusul pembangunan  Rumah Ibadah sederhana. Tempat penduduk asli itu, melaksanakan Ibadah dalam kepercayan barunya.  Dalam perkembangan selanjutnya Kapten Jensen dikenal dengan panggilan sebagai Tua  Jelawo’o. Sebutan dalam bahasa lokal sebagai: Tuan Rambut Menyala atau Tuan Rambut Merah. Sebagaimana warna Rambut orang Denmark, yang kita kenal hingga dewasa ini.


           Menurut catatan para perintis peristiwa itu, terjadi pada tanggal 15 September tahun 1913. Momen itulah dihitung sebagai titik awal, dimulainya pelayanan Bala Keselamatan di Bumi Tadulako itu. Jika saudara ingin bernafaktilas, dapat menyaksikan lokus pertama Bala Keselamatan memulai pelayanannya. Tempat historis itu berada di daerah Rowiga. Disana ada dibangun  sebuah Situs atau Tugu Peringatan. Untuk mengenang peristiwa bersejarah, bagi warga Bala Keselamatan di bumi Tadulako itu. Lokasinya  dilingkungan  Perkantoran  Divisi Palu Barat. Tidak terlalu jauh dari kota Palu, kurang lebih 10 Kilo Meter saja.


          Pertanyaan berikut siapa dan mengapa Bala Keselamatan bisa dengan mudah mendapatkan Tanah atau lokasi untuk membangun Rumah Opsir dan Pelayanan Rumah Ibadah ketika itu. Serta mengapa masyarakat lokal di era itu, merasa simpati dan berkenan menghibahkan  tanah tanpa prasyarat kepada Bala Keselamatan. Mari kita amati lagi apa yang tertulis dalam salah satu dari buku-buku resmi  diatas. Ketika itu Kapten dan Nyonya Nathalie Jensen, menghadap Paduka Raja Parampasi di Palu. Pasangan Opsir ini melaporkan maksud dan tujuan pasangan itu datang ke daerah itu. Dengan segala hormat perintis menyampaikan rencana pekerjaan, yang akan dilakukan di daerah baru, di wilayah  kekuasaan Raja di Tanah Kaili itu.



         Singkat cerita setelah mendengar uraian dari Hamba Tuhan itu, Raja Parampasi dengan spontan dan tanpa berbelit-belit, mendukung pelayanan Opsir berkebangsaan Denmark itu. Raja tidak melakukan yang populer dalam kebiasaan aneh oknum” Birokrat kita dekade akhir-akhir ini. Kalau bisa dipersulit,   mengapa harus dipermudah. Raja Parampasi dengan sukacita menghibahkan  sebidang tanah, kepada pasangan Hamba Tuhan berkulit Putih itu.

         Dengan disaksikan oleh sejumlah rakyatnya, Kapten Jensen berdoa diatas tanah pemberian itu.  Dengan cara merebahkan diri, meletakkan dan menempelkan Telinga diatas tanah itu,  seraya dengan kedua tangannya menepuk-nepuk bumi, kurang lebih 10 menit. Cara Perintis minta petunjuk Tuhan. Dimana melalui cara itu dia mendengar bisikan Tuhan tentang pemberiaan tanah itu. Untuk tawaran pertama  perintis  berkesimpulan: Tidak  cocok alias kurang pas, Tanah yang dihibahkan itu. Kemudian perintis meminta lagi, kepada  Sang Raja lokasi yang lain. Raja merespons dan menawarkan  alternatif lain. Sesuai dengan keinginan Sang Perintis. Setelah berdoa dengan cara yang sama untuk kedua kalinya. Perintis mendapat jawaban dari Tuhan. Sebidang Tanah yang terakhir ini cocok, dan menarik hatinya sebagai awal misi pelayanan pasangan muda itu {Melatie Brouwer}.

          Sangat mungkin Doa Opsir perintis itu, substansinya mirip dan identik dengan Jawaban Tuhan. Ketika 12 (Dua Belas) orang perwakilan Suku Israel yang diperintahkan Musa, Hamba Tuhan yang setia itu. Ketika mereka mengintai dan melihat serta menginjakkan kaki, dipinggir   Tanah  Perjanjian.  Tanah Kanaan negeri nan subur  penuh dengan buah Anggur, Delima dan buah Ara dan berlimpah Air Susu dan Madu itu {Bilangan 12.23 – 27}.


HIDUP MELEBIHI ZAMAN :


            Seminggu sebelum artikel ini digoreskan, penulis mencoba mendikusikan rencana CATATAN PINGGIR ini, dengan seorang Opsir Bala Keselamatan yang melayani di Jakarta. (Kebetulan Pendeta itu pernah lama melayani, di wilayah Palu Barat). Ketika itu ada sejumlah klarifikasi dan pertanyaan yang menggelitik pikiran kami berdua. Lalu kami berdua berimajinasi, tentang inti dari apa yang dipikirkan dan didiskusi kedua tokoh diatas yang berlainan Budaya, suku bangsa dan Kepercayaan itu. Dimana terbangun dinamika pembicaraan yang hangat dan akrab, diantara Raja Parampasi dan Kapten Jansen Seratus tahun lalu itu.

           Apa dan mengapa Raja Parampasi almarhum, bersukacita memberi  sebidang tanah kepada Sang Perintis. [Muda-mudahan persepsi dan assumsi kami kurang valid Red]. Pertama Raja Parampasi memang Manusia Luar Biasa. Karena sudah berpandangan  luas. Raja Parampasi berwawasan jauh kedepan dalam mengambil sesuatu keputusan. Pakar dan cendekiawan masa kini mengatakan : Raja hidup melampaui zamannya. Raja sudah berpikir tentang apa yang akan dilakukan dan dikerjakan  Sang Perintis. Merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari rencana kemajuan rakyat Nya. Kedua karena yang dibina dan dilayani adalah rakyat, maka  Sang Raja menjawab sendiri dalam kalbu tekateki itu dengan berkata  mengapa tidak?. Kalau demi kemaslahatan dan kemajuan rakyat Ku. Ketiga kalau kehidupan rohani dan kesejahteraan semakin lebih baik dan meningkat. Maka nilai tambah keberhasilan itu, otomatis tetap bagian yang tidak terpisahkan dari inisiatif  Raja Lokal itu.

            Keempat Raja faham  cara berpikir, berbeda itu indah. Seperti selogan Tentara Nasional Indonesia {TNI}, dalam menggalang rasa kebangsaan itu. Bagi Raja Parampasi tidak selamanya, perbedaan itu buruk. Raja dengan sukacita memberi kesempatan, kepada sebagian rakyatnya,  untuk menjadi penganut keyakinan baru. Faham dan ajaran Agama baru, yang akan diajarkan Pendeta Jansen, Hamba Tuhan berkulit Putih itu. Yakni dari kepercayaan semula [bukan] Muslim. Menjadi pengikut Bala Keselamatan, kemudian hari dikenal sebagai bagian dari umat Kristiani. Kelima Raja percaya rakyat yang menjadi pengikut Bala Keselamatan itu, masih tetap rakyat Raja.  Dengan kata lain didalam benak Raja, loyalitas dan kesetiaan  rakyat masih kepada Raja. Karena secara genetika, mereka masih punya hubungan darah, yang tali temali. Dalam ikatan kekerabatan,  bahasa, adat istiadat dan kebiasaan yang sama. Dengan pemikiran yang cerdas, Raja masih tetap tinggal dan bergaul dengan Rakyatnya. Walau cara mereka berbeda, dalam menyembah dan memuliakan Tuhan.


            Keenam Sang Raja yakin, rakyat yang menjadi pengikut Bala Keselamatan itu, tidak akan mutasi, atau bernaturalisasi menjadi warganegara Denmark. Seperti jalan pintas yang ditempuh Pengurus PSSI belakang ini, dalam mencari Tenaga Professional Pemain Bola Nasional. Untuk dan atas nama Kejayaan Merah Putih itu. Tetapi tujuan utama Pendeta Jansen, bukan mencari bangsa lain. Dalam menambah angka statistik   warga Denmark. Tetapi mencari jiwa-jiwa untuk Tuhan. Melepaskan mereka dari dunia yang gelap. Ke dunia yang terang dalam ajaran kekristenan. Raja Parampasi mengerti betul, tidak ada korelasi loyalitas, kepatuhan dan kesetiaan RakyatNya kepada Baginda Raja, dengan berkeyakinan baru itu.. Ketujuh sangat mungkin dipandangan Raja, sudah tertanam ajaran agama yang dianutnya. Bahwa persoalan keyakinan, adalah urusan setiap pribadi. Sesuatu hak yang universal dalam hidup ini. Sesuatu hak yang tidak boleh  diintervensi siapapun. Suatu sikap dan pribadi yang dikenal kini, sebagai toleransi beragama. Bagian yang tidak terpisahkan, dari apa yang tersurat  dan tersirat, dari Panca Sila.  Sebagai Dasar Negara Indonesia dikemudian hari. Dengan kata lain Raja sudah berpikir perbedaan itu bukan masalah, dan tidak perlu dipermasalahkan. Bagi Raja perbedaan adalah Pelangi Kehidupan  yang indah.


           Kedelapan, ketika itu Raja sudah berpikir, Negara Indonesia yang akan dibangun kelak, bersumber dari Kebhinekaan. Bukan berasal dan didirikan dari masyarakat yang serba homogen. Negara harapan itu dibangun dari berbagai perbedaan. Tetapi dalam satu tujuan. Yakni merdeka lepas dari tangan penjajah.  Dengan kata lain dibenak  Raja,  perbedaan adalah keniscayaan dalam hidup ini.  Tentu saudara boleh kembangkan lagi berbagai pikiran positif, apa yang ada di hati Raja di Tanah Kaili itu. Dengan kata lain nuansa, pemikiran Raja  sudah bersemi. Jauh sebelum Sumpah Pemuda dikumandangkan, kaum Muda Nusantara Belasan Tahun kemudian.     


          Kesembilan, pertanyaan ikutannya, mengapa pelayanan Bala Keselamatan sejak awal sudah direspons secara positif oleh Raja Parampasi ?. Jawaban sangat sederhana. Karena karya dan pelayanan  Bala Keselamatan  itu   bersifat Universal. Diluar {Urusan Kerohanian}, Bala sudah sejak awal komit dengan persoalan kemanusian. The Salvation Army, justru dibangun oleh Pendiri Jenderal Willian Booth, karena terjadi ketimpangan dalam  persoalan Kemanusiaan. Slogan Bala Keselamatan: Heart to God and Hand to Man - Hati ke Tuhan, Tangan ke sesama. Sangat mengena di hati Raja. Raja tahu dan mendengar, pertama-tama yang akan dilakukan para perintis, menolong kepada sesama dalam berbagai kebutuhan tanpa diskriminasi. Yaitu menolong  Orang Sakit. Kemudian merambah ke Dunia Pendidikan. Melayani  orang Papah, yang terpinggirkan seperti fakir miskin, orang terlantar, anak yatim piatu  dan orang Berpenyakit Kusta, hal-hal lain yang kurang diperhatikan oleh sesama. Pekerjaan yang hingga kini konsisten dikerjakan Bala Keselamatan.  Baik di era lalu, era kini dan di era yang akan datang. Persoalan kemanusian diatas, senantiasa tetap menjadi target dan sasaran utama, pelayanan Bala Keselamatan di 125 Negara dimuka bumi  ini.


SIMPATISAN DAN PRAJURIT PERTAMA:


           Selanjutnya mari kita telusuri rangkaian pertanyaan berikut: Siapa saja para penduduk pribumi  yang menjadi mitra dan simpasan awal Bala Keselamatan. Pada saat awal pelayanan Bala Keselamatan di mulai di Propinsi ini ?.Didalam uraian buku-buku diatas dicacat ternyata para Opsir Perintis itu, memanfaatkan dan bekerja sama dengan penduduk pendatang. Pendatang dalam konteks tulisan ini, bukan penduduk lokal atau orang setempat. Tetapi mereka berasal dari Daerah atau Propinsi  lain. Mereka merupakan tenaga profesional. Para Guru dan tenaga terdidik lainnya. Mereka berasal dari Tanah Minahasa, Sangir Talaud di Sulawesi Utara dan orang Ambon dari Tanah Maluku.


           Pertanyaan yang menarik,  mengapa “ Suku Asing” itu, bersedia dan mau bekerjasama dengan para Perintis?. Jawabannya logis dan sederhana. a). Mereka adalah kaum terdidik, dan terpelajar dizamannya.b). Mereka berasal dari daerah atau denominasi, yang sudah menjadi penganut Kristen {Walaupun bukan warga Bala Keselamatan}. Orangtua mereka adalah hasil dari upaya Zending lain. Sebelum Bala Keselamatan masuk ke Nusantara ini. c). Kaum profesional ini dengan warga lokal, sama sama warga pribumi. Ketika itu sudah terbiasa berkomunikasi, dalam bahasa Melayu, bahasa yang dikemudian hari menjadi bahasa resmi. Seperti bahasa persatuan yang kita gunakan dewasa ini. Dengan demikian para profesional ini otomatis, menjadi mediator sekaligus penerjemah bagi para missioner. Sebelum para perintis asing itu, faham dan lancar berbahasa lokal. d). Keprofessionalan kaum pendatang ini, ternyata banyak bersinggunggan dengan bidang pelayanan yang dikerjakan oleh para perintis. Yaitu dibidang Pendidikan, Kesehatan, Pekerjaan Umum, Pengairan, Pertanian. Serta sebagai Pegawai Pemerintah Kolonial di Daerah rintisan itu. e). Ketika itu pelayanan bidang Rohani Kristen di wilayah ini, Bala Keselamatan adalah aliran Gereja resmi pertama, yang diakui Pemerintah kolonial. Serta berbagai faktor lain yang memungkinkan dapat disinergikan dengan para perintis Bala Keselamatan.      


            Diawal-awalnya mereka hanya sekadar ber empati. Dengan cara membantu pelayanan seadanya. Kemudian merangkap dan bermitra. Lalu tidak terbilang dari pendatang itu, bekerja penuh waktu. Beralih menjadi Opsir Pribumi. Dengan cara mengikuti Kursus Singkat dan Reguler. Didalam panggilan itu ternyata banyak diantara pribumi itu, menyerahkan  seluruh hidupnya  untuk melayani Tuhan.  Karena partisipasi aktif itulah dikemudian hari, kita mengenal sejumlah perintis pribumi dengan fams atau marga seperti: Sahetapy, Waleleng, Losso, Nelwan, Merpati, Jacobus, Kalangie, Tandayu, Kandouw dan lain-lain.
         
           Namun ada pertanyaan yang mengelitik dibenak dan pikiran kami, terhadap perjuangan para Opa dan Oma diatas. Kini pada generasi ke Tiga ke Empat dan ke Lima, dari keturunan  Perintis Pribumi diatas. Ternyata cukup  banyak yang menjauh dari Bala Keselamatan. Tidak sedikit dari keturunan Opa dan Oma itu, bukan lagi Prajurit Setia Bala Tuhan. Mereka keluar dan beralih ke gereja denominasi lain. Tentu dengan Seribu Satu alasan dan argumentasi. Apakah itu karena perbedaan pendapat. Persoalan prinsip hidup dan masalah lain, yang bersifat pribadi. Boleh jadi juga karena persoalan ekonomi keluarga. Atau karena gesekan dan tawaran duniawi ini. Kami yakin saudara dan sahabat Bala Keselamatan, bisa memberi jawaban yang valid. Mengapa sampai sebagian keturunan para perintis itu sampai exsodus. Seirama dengan suasana kongres seabad ini. Perlu kembali kita merenungkan. Mengapa dan dimana yang salah,  dan atau keliru. Sehingga sebagian  dari saudara itu, tidak lagi Se Gereja dengan kita dalam memuliakan dan mengagungkan Tuhan.


KOLONISASI KALAWARA :


        Selanjutnya dalam buku-buku diatas, disebutkan Tuan Adolf Van Emmerik. Satu dari Dua Orang Opsir Angkatan Pertama yang masuk dan melayani di Belanda. Karena alasan kesehatan Dia keluar dari Dinas Opsir. Namun kerena Van Emmerik saat awal menjadi Opsir telah berjanji dengan Tuhan. Maka dia tidak terlalu jauh bekerja dari bidang pelayanan. Kalau diawalnya dia rindu  menjadi Pendeta. Maka dia tetap melayani kemanusiaan. Yaitu kongsi atau Organisasi Sosial Salip Putih namanya. Untuk keperluan dan pengembangan organisasi itu, kongsi itu mencari dan membuka koloni baru. Sebagai pengganti  dan perluasan tempat pelatihan dan pembinaan warga binaan organisasi sosial itu. Kolonisasi Kalawara didirikan dan dibangun pada Tahun 1905. Delapan tahun lebih awal, dari masa dimulainya pelayanan Bala Keselamatan di bumi Sulawesi Tengah. Dimana semula berada di sekitar Salatiga di Pulau Jawa di Propinsi Jawa Tengah sekarang. Dikemudian hari dengan alasan biaya dan kesinambungan pelayanan, Koloni Kalawara diserahkan sepenuhnya pengelolaannnya kepada Bala Keselamatan. Karena memang sejak di Tanah Jawa juga, Organisasi Bala Keselamatan sudah concern kepada organisasi nirlaba itu. Itulah sebabnya sejarah mencatat perjalanan pelayanan di daerah eks koloni Kalawara, hingga kini tidak terlepas dari tangan pelayanann  Bala Keselamatan.

           Koloni Kalawara kita kenal sebagai upaya, rintisan perpindahan penduduk. Dari wilayah yang padat  penduduk ke daerah yang jarang penduduk. Sebagai bagian yang tidak terlepas dari Sejarah Transmigrasi di negeri ini. Kolonisasi Kalawara adalah program yang sezaman, dengan kolonisasi di Lampung. Sebagai cikal bakal dari Program Nasional Transmigrasi. Khususnya program dan target Pemerintah Pusat di era Orde Baru. Sementara itu perpindahan penduduk negeri ini, ke Luar Negeri di era kolonial. Kita kenal dengan sebutan kolonisasi Suriname di Amerika Selatan. Serta  Kolonisasi Caledonia Baru, di suatu gugusan pulau Atol di Lautan Pasifik.


TAHAPAN  DAN  PERKEMBANGAN  PELAYANAN :


           Setelah Pendeta Jensen mendirikan Rumah Opsir dan Rumah Peribadatan Pertama, di sebidang tanah yang di hadiahkan Raja Parampasi. Kemudian wilayah pelayanan berkembang terus, secara perlahan tetapi pasti. Mula-mula disekitar Tanah Datar Rowiga disekitar pinggiran Palu. Lalu pencarian jiwa-jiwa dan pengabaran Injil Kristus, disebarkan terus. Tahun demi tahun dibangun lagi,  Rumah-rumah Ibadah bagi masyarakat lokal, yang dimenangkan para perintis berikutnya. Dikemudian hari menyebar naik lagi, ke daerah Pegunungan  dan Pedalaman. Masuk dan menjalar ke wilayah Dompu. Kemudian berkembang ke Daerah Pakawa. Menyebar lagi  ke Daerah Bunggu sekitarnya. Sejalan dengan perjalanan waktu, wilayah rintisan ini. berkembang menjadi wilayah kerja Pelayanan, yang kini dikenal sebagai Wilayah Pelayanan Divisi Palu Barat.

           Sementara itu ke arah Pantai Timur Kabupaten Donggala (Ketika itu), berkembang kearah  Parigi dan Mautong. Sejarah Perjalanan  Bala mencacat untuk Daerah ini dimotori Kalangan Guru Muda diawal rezim Orde Baru berkuasa. Di era itu Pemerintah menetapkan INPRES penempatan Guru Sekolah Dasar, keseluruh pelosok Tanah Air. Kalangan Pendidik Muda ini umumnya berasal dari Wilayah Kulawi, Pipikoro dan sekitarnya. Dimana umumnya para Prajurit dan jemaat Gereja Bala Keselamatan. Para Tenaga Muda inilah yang menjadi cikal bakal dan embrio Pelayanan Bala disana. Ditambah dengan migrasi spontan penduduk, dalam artian perpindahan penduduk lokal dari Wilayah Kabupaten yang sama.

           Dikemudian hari sejalan dengan tuntutan pelayanan, berkembang ke wilayah Pantai Barat Donggala. Masuk dan berkembang ke wilayah rintisan baru, di sekitar Pasangkayu. Wilayah terbaru ini kita kenal sebagai wilayah Kabupaten Mamuju Utara. Bagian dari Propinsi Sulawesi Barat. Dengan alasan untuk mendekatkan dan mengoptimalkan pelayanan. Daerah sekitar Pantai Barat dan wilayah Pasangkayu dan sekitarnya digabung dan dikembangkan. Dipisahkan dari wilayah kerja dan pelayanan Divisi Palu Barat. Wilayah pengembangan ini kini kita kenal, sebagai Wilayah Divisi Manggala. Divisi baru ini terdiri dari 3 {Tiga} Distrik yaitu Distrik Malino, Mamuju Utara dan Lalundu.  Kantor Divisi  baru  itu berada di Dusun Duria Sulapa. Sekaligus disana berdiri sebuah Korps, dengan nama yang sama, yakni Korps Duria Sulapa. Di Desa Kalola, Kecamatan Bambalamotu. Bagian dari Kabupaten Mamuju Utara. Wilayah administratip Propinsi Sulawesi Barat. Wilayah kerja Bala Keselamatan terbaru, merupakan Divisi Bungsu di Teritori Indonesia dewasa ini.
      
           Selanjutnya Kapten Hendrik Loois bersama isteri Wilhelmina,  membuka dan memperluas wilayah pelayanan Bala Keselamatan  ke daerah pedalaman dan pegunungan  di sekitar daerah Kulawi. Di Dataran Kulawi dimulai di Korps Kulawi pada tahun yang sama, yakni pada tahun 1913. Sangat mungkin bulannya saja yang berbeda, dengan pembukaan pelayanan di Rowiga diatas.  Tiga Setengah tahun kemudian disusul dengan pelayanan baru didesa Kantewu, yang dibuka oleh Kapten Woodward pada tahun 1917. Kemudian secara sporatis pelayanan Bala Tuhan itu, berkembang   ke daerah-daerah  di dataran Kulawi lainnya, Gimpu, Karangana, Lindu, Tobaku dan dataran Pipikoro sendiri. Dengan pusat pengembangan di Kulawi dan Kantewu. Kini kedua wilayah pelayanan itu sebagai  wilayah kerja Kantor Divisi Kulawi.

           Dalam pada itu tahun 1926 menurut catatan yang lain, dimulai pelayanan Bala Keselamatan di kota Palu.  Setelah 13 (Tiga Belas) tahun di buka pelayanan Pertama di Rowiga dan Kulawi. Atau 9 (Sembilan)  tahun sesudah di buka pelayan di dataran Pipikoro. Selanjutnya dari Palu berkembang ke arah aliran Sungai Gumbasa dan Dataran Rendah di lembah Palu dan sekitarnya. Lalu menjalar lagi ke dataran Palolo, dan terakhir ke Napu Besoa.  Daerah yang secara Administrasi berada di Kabupaten Poso. Kini wilayah kerja pelayanan ini dikenal, sebagai wilayah Kerja Kantor Divisi Palu Timur.  Kini pelayanan Bala Keselamatan di Sulawesi Tengah bersatu dengan Propinsi Sulawesi Barat. Perlahan dan pasti sudah berada di 6 {Enam} Kabupaten dan Kota. Bergerak di 4{empat} bidang pelayanan yang menjadi misi Bala Keselamatan yang bersifat umum itu. Yakni di bidang Pelayanan Rohani, Pendidikan,K esehatan dan Kesejahteraan Sosial.

DISIPLIN DAN KEBIASAAN DIRI :


           Perlu dicatat kebiasaan baik Kapten Leonard Woodward, didalam melakukan pelayanan. Dia senantiasa mencatat berbagai kegiatan lapangan, yang dipandangnya perlu. Catatan  yang semula hanya tertera, di dalam Buku Harian atau buku Kerja saja.  Dikemudian hari data dan fakta yang termuat didalam sejenis Buku Kerja itu, tidak ternilai dengan uang atau materi lainnya. Khususnya dalam dinamika  perkembangan, pelayanan  Bala Keselamatan di negeri ini. Sesuatu hal yang pantas diteladani dan ditiru, oleh para Pendeta atau Hamba Tuhan Bala Keselamatan di era informasi ini. Secara spesifik layak diteladani Pendeta Muda, ketika mereka diutus. Khususnya  ke daerah pedalaman dan atau rintisan baru. Dimana  sarana dan prasarana serta komunikasi  yang  terisolir dan terbatas.


           Pemikiran ini  dikemukakan sejalan minat baca bangsa kita yang rendah, tidak cermat dan kurang peduli. Serta motivasi menulis masyarakat kita juga lemah. Sehingga menjadikan bangsa Indonesia, tergolong dan digolongkan, sebagai bangsa yang kualitas  membaca dan menulisnya rendah.  Dibandingkan dengan negara dikawasan Asia Tenggara saja sudah jauh tertinggal. Apalagi diranking untuk kawasan dunia ini. Posisi negara kita hampir nyaris diurutan bawah. Sinyalem itu termuat dengan jelas, dalam Dunia Maya. Kita boleh percaya atau tidak, senyatanya secara jelas digambarkan, posisi orang Indonesia dalam situasi yang kurang kompetitif.


          Mari kita lihat dan amati sejumlah contoh soal tentang manfaat  dan nilai yang terkandung dalam suatu tulisan. Khususnya Catatan Lapangan, yang dihasilkan seseorang dan atau sekelompok orang dikemudian hari. Karena alasan teknis diutarakan dengan 3 (tiga) buah contoh soal saja. Sementara contoh lainnya dapat cari sendiri. a). Buku: IN CENTRAL BORNEO. Karya Dr. Anton W. Niewenhuis. Buku yang di Indonesia kan Penerbit Gramedia Pustaka Utama, menjadi buku berjudul: Di Pedalaman Borneo.  Pada tahun 1994 dalam rangka mengenang 100 Tahun Expedisi ke pedalaman Pulau Kalimantan buku itu diterbitkan. Buku yang menjadi acuan dan standard ilmiah, jika seseorang Peneliti atau Ahli, berbicara tentang Suku Dayak. Dr. Anton adalah ahli Ennografi dan Antropologi yang terkenal di era lalu.  Kata seorang Sosiolog terkemuka dari Universitas Tanjung Pura Pontianak, rasa-rasanya kurang klop, jika orang berbicara tentang siapa dan apa Manusia atau orang Dayak. Tanpa mencantumkan buku karya Dokter ahli Kesehatan orang Belanda itu, sebagai bagian dari refrensi dan kajian ilmiahnya.


          b). Buku: Besturen Overzee, di Indonesia kan menjadi buku: Kenang-kenangan Pangrehpraja Belanda Tahun 1920-1944. Buku ini awalnya hanya merupakan Catatan Lapangan. Dari  12 [Dua Belas] orang mantan Binnenlands Bestuur. Pegawai Pamong Praja Belanda, yang menjadi Amtenaar di era kolonial. Mereka birokrat  setingkat alumni APDN-IIP-IPDN, Perguruan Tinggi Kedinasan itu. Mereka menuliskan: Apa yang mereka Lihat, mereka Ketahui dan mereka Dengar. Ketika menjadi Pejabat Pemerintahan, dihampir semua wilayah Negeri ini. Catatan lapangan yang dibakukan dalam bentuk Buku itu hingga kini, tetap  menjadi acuan yang valid. Jika seseorang berbicara tentang Sosial, Budaya dan Kemasyarakatan Daerah tertentu. Jika anda sebagai Pamong Muda, tentu tahu dan pernah membaca buku itu bukan ?.   



           c). Dipertengahan Tahun Sembilan Puluhan, seorang Pendeta Muda Bala Keselamatan diutus ke Kalimantan Timur. Hampir 5 {lima} tahun Letnan Muda itu melayani di pedalaman. Dasar seorang Opsir yang concern, dengan kehidupan warga yang di gembalakannya. Hamba Tuhan yang muda belia ini dengan serius mempelajari, dan mengamati  tata kebiasan atau budaya lokal Daerah itu. Seperti bagaimana cara penduduk berkebun, membangun rumah baru, seluk beluk perkawinan, menerima dan menghormati tamu asing  dan sejumlah pola kehidupan jemaatnya. Tentu semua kebiasaan itu, selalu dikaitkan dengan ajaran dan dogma kehidupan Kristiani. Sebagai bagian dari Peperangan Suci, Darah dan Api dan Bendera Tri Warna yang diajarkan di Pusat Pendidikan Keopsiran Bala Keselamatan.

           Dalam perjalan waktu setiap ada acara kegiatan yang terkait dengan kebiasaan itu, bukan lagi Pendeta Muda itu yang bertanya. Tetapi justru jemaatnya yang berkonsultasi  ke Hamba Tuhan itu. Singkat cerita Si Pendeta Muda itu. Saat menjalani cuti tahunan dirumah kami di Jakarta, dia  bercerita kepada penulis. Dari cerita dan diskusi itu kami sarankan agar dituliskan saja, tahapan-tahapan acara kebiasaan masyarakat lokal itu. Dengan cara seadanya saja dulu {Di  era itu belum ada Komputer}. Jika suatu ketika di mutasi dan atau pindah melayani di Kota, kita atur strategi lanjutannya, sambung penulis. Pengalaman Lapangan itu bisa disusun dan di tulis dengan baik, sesuai dengan kaidah-kaidah penulisan Buku.

           Jika dimungkinkan kita cari bersama, Penerbit atau Sponsor yang bersedia mendanai dan memasarkan  ajak kami. Tetapi seperti yang disinyalir diatas, Si Pendeta Muda itu tidak punya kemauan yang kuat, untuk melakukan gagasan  itu. Dua Puluh tahun kemudian, setelah diselingi mutasi untuk kesekian kali. Kami ketemu dan bicarakan lagi, tentang kemahirann dan penguasaan Budaya Masyarakat yang pernah dilayaninya belasan tahun lalu itu. Sudah banyak yang terlupa Pak, jawabnya enteng tanpa beban. Sayang Seribu kali sayang. Catatan Lapangan yang dibangun dengan energie, dan waktu yang lama  itu hilang percuma. Ternyata perilaku lupa dan terlupa, menjadi tantangan utama. Obat mujarapnya hanya Satu. Biasakan diri mencatat dan menuliskan apa yang dilihat, apa yang  diketahui dan apa yang didengarkan titik. Seperti apa yang dilakukan Pendeta Leonard Woodward Warga Negara Inggris, yang melegenda di kawasan Bumi Tadulako itu. Tentu anda dapat menyimpulkan plus –minus, dari ke 3 (Tiga) contoh kasus Catatan Lapangan tertulis diatas.

          Untuk melengkapi  kepiawian Letnan Kolonel Woodward. dikutip salah Satu Catatan Lapangan, Rasul Orang Uma “ itu dalam buku hariannya: Pada tanggal 1 Januari 1949 Leonard menulis dalam buku hariannya: Dengan bersyukur kepada Allah selama Tahun 1948, yaitu tahun terakhir saya di Sulawesi Tengah, Tuhan telah memperkenankan saya Memimpin sejumlah 246 Kumpulan, yang dihadiri 31.257 orang. Dan antaranya saya melihat 1548 jiwa yang bertelut dibangku tobat. Saya menahbiskan 71 Prajurit, 86 rekrut dan 112 Prajurit Muda dan menyerahkan 196 anak Kepada Tuhan. Terpujilah nama Allah.
  
           Fakta dan data tertulis diatas memang sederhana. Laporan Lapangan dalam catatan harian itu, tetapi dapat  berkata banyak kepada para pembacanya. Bisa berkata-kata sangat panjang, agak panjang dan panjang, pendek, lebih pendek dan sangat pendek. Tergantung dari katamata dan sisi mana, kita memandang dan mengamatinya. Realita itu juga dapat dijadikan menjadi sejenis bandingan. Apa dan bagaimana kinerja,  yang kita lakukan bagi kemulian Tuhan. Melalui sikap diri dan jiwa melayani yang tertanam dalam hidup ini. Baik bagi saudara dan kami, sebagai sesama Prajurit dan atau jemaat biasa. Juga bagi anda yang ditunjuk dan dipercaya, sebagai Opsir Setempat, Penatua, Diaken.  Maupun bagi Bapak dan Ibu sebagai Opsir, Pendeta, Hamba Tuhan, Pastor, Romo, Gembala Sidang dan sebutan lain. Sebagai wujud janji dan penyerahan diri dan komitmen kepada Tuhan. Dari laporan tertulis itu bisa berbicara banyak kepada khalayak ramai. Apa dan bagaimana kehidupan pelayanan kita, dalam hidup yang singkat  di dunia yang fana ini.     


SERATUS TAHUN LAINNYA:
            Jikalau pada tahun 1994 yang lalu kita   telah ber Kongres 100 Tahun Pelayanan Bala Keselamatan di Indonesia. Dengan awal rintisan di Desa Sapuran Purworejo, yang  dimotori Staf Kapten Jacob Gerrit Brouwer. Maka pada tahun  2013 ini, Warga Sulawesi Tengah merayakan jubelium 100 Tahun Bala Keselamatan, dengan awal Pelayanan di Rowiga. Secara spesifik di Gereja pertama, dengan nama Korps Mabere (?). Semula Korps atau Gereja itu   berada di pinggir jalan Raya di Desa Sibedi. Namun sejarah juga mencatat  terpaksa di pindahkan, ketika terjadi pergolakan diawal kemerdekaan. Lokasi Gereja kini dibangun kearah gunung. Dengan fasilitas yang diberikan Komandan Divisi Palu Barat, penulisdapat  melihat lonceng Gereja Pertama itu ber-tahun pembuatan 1905. Lonceng Gereja yang terbuat dari Besi Baja, diproduksi  di salah Satu Negara  di Eropa. Demikian penuturan penih sepuh, Korps Mabere pada penulis baru-baru ini.  Saat kami bersama beliau mengikuti ibadah  di Gereja bersejarah Korps Pertama Bala Keselamatan di Bumi Tadulako itu.
             Selanjutnya warga kawasan Pipikoro akan merayakan tahun sempurna itu, pada tanggal 17 Oktober 2017. Karena tanggal dan Bulan itu dilakukan peresmian Korps atau Gereja Kantewu dan sekaligus Pembukaan Sekolah Rakyat. Dengan demikian rintisan Kapten Leonard Woodward, di daerah unggulan pelayanan Bala Keselamatan itu, sudah berusia 96 (Sembilan Puluh Enam) Tahun, hingga saat CATATAN PINGGIR  ini dilansir {Herman D Rigo}.
           Khusus untuk dataran Lindu penulis mendapatkan 2 (dua) data yang berbeda,pada dokumen tertulis dalam buku-buku diatas (?).Di Daerah Taman Nasional dan Hutan Lindung  yang kita kenal dewasa ini. Bala Keselamatan mulai melayani pada Tahun 1926. Sementara menurut versi  Bapak Lewi Tarua Prajurit Bala Keselamatan di Korps Tomado. Dia  menyampaikan secara tertulis  kepada kami. Fakta yang diperolehnya dari penuturan langsung kalangan tua-tua disana. Dinyatakan pelayanan Bala Keselamatan di Dataran Lindu  dimulai pada tahun 1916. Terdapat interval atau jedah waktu 10 Tahun, diantara dua fakta itu. Realita yang perlu diklarifikasi dan dikaji  ulang, oleh para Sejarawan Bala Keselamatan. Sehingga secara pasti warga kita disana, khususnya generasi berikut mendapat kepastian. Kapan sebenarnya hari bersejarah 100 tahun Bala Keselamatan itu dimulai disana . Jika secara khusus di distrik Lindu itu dilakukan, Kongres Bala Keselamatan 200 Tahun yang akan datang.
           Untuk Wilayah Distrik Palolo.akan merayakan pada tahun yang sama, yaitu  tahun 2017. Sebagaimana data yang terbaca  dihitung sejak dibuka pelayanan pertama di Desa Kapiroe pada tahun1917 yang lalu. Sementara itu warga kota Palu dan sekitarnya, akan ber Kongres 100 Tahun Bala Keselamatan  pada tahun 2026. Yaitu 13 tahun kemudian setelah masa perintisan awal di daerah Rowiga. Atau 9 Tahun setelah dibuka pelayanan Bala Keselamatan di Kantewu. Selanjutnya Kongres 100 Tahun yang “ Bersifat  lebih lokal ”. Baik di Tingkat Korps atau Gereja   dan atau Distrik di Bumi Tadulako lainnya, Silahkan saudara pelajari, kaji dan amati  dari data tertulis dan fakta lain yang dapat dipertanggungjawabkan,   Dimana saudaraku berdomisili dan terdaftar sebagai Jemaat  atau  Prajurit  sebuah  Korps atau Gereja.

PANDANGAN DAN SARAN :


           Seturut  dengan Kongres Akbar   Bala Keselamatan di Sulawesi Tengah di atas, dikaitkan dengan rencana kehadiran dan kunjungan Jenderal Pemimpin Tertinggi Bala Keselamatan se Dunia itu.  Sekiranya Kantor Pusat Teritorial dan Panitia Pusat Peringatan Hari Ulang Tahun se Abad Bala Keselamatan diatas, dapat mempertimbangkan  sesuatu yang terkait dengan Sejarah awal perintisan Bala Keselamatan di Tanah Kaili ini. Kami sarankan Bala Kita perlu melakukan, dan berbuat sesuatu yang anggun dan terhormat. Yaitu memberi sejenis: Piagam Penghargaan, dari Pimpinan Internasional kepada a).  Raja Parampasi Almarhum. Atas Keputusan Baginda yang fundamental, abadi  dan bersahabat kepada Bala Keselamatan. Suatu keadaan yang hingga kini boleh kita nikmati, dan rasakan sebagai warga Bala Tuhan disana. Begitu juga Keturunan dan Kaum Kerabat Raja Parampasi, hingga saat ini masih memegang teguh, “Nilai Persahabatan yang dirintis dan diletakkan Kakek-Buyut mereka.
           Kepada b). Abdul Azis Lamadjido, SH. {Pak Azis atau Pak Lamadjido, panggilan dan sebutan sehari-hari}.  Mantan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Donggala 2 (Dua) Periode. Sekaligus mantan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Propinsi Sulawesi Tengah. Para Opsir Perintis Pribumi  dan Opsir Senior, yang pernah bertugas dan melayani di Sulawesi Tengah sangat faham dengan maksud dan niatan ini. Mereka sangat merasakan bagaimana perhatian dan kerjasama, yang digalang Pak Lamadjido dan jajarannya dengan Bala Keselamatan, semasa jadi Pimpinan di Kedua Tingkatan Pemerintahan yang berbeda itu.
           Khusus rasa hormat untuk Pak Lamadjido, tidak ada niat kami untuk memperbandingkan antara pejabat sebelum dan sesudahnya. Tetapi semata-mata dengan pertimbangan rasa hormat dan nilai persahabatan semata-mata. Sebagaimana yang kami fahami dari selogan Internasional The Salvation Army: Heart to God and Hand to Man. Bukankah selayaknya Warga Bala di negeri ini, yang pertama-tama mewujudyatakan gagasan Pendiri Bala Keselamatan Jnederal William Booth itu ?.
           Pandangan dan pemikiran diatas kami serap dan rekam dari berbagai stakeholder disana. Dalam banyak kesempatan, baik ketika ketemu di Jakarta. Maupun dalam berbagai kesempatan saat kami berkunjung ke Palu. Berbicara  dengan sejumlah Opsir Senior, mantan dan pejabat Daerah yang kebetulan Prajurit Bala, Tokoh Masyarakat, Orang Tua dan Prajurit Bala Keselamatan lainnya  {Sebagian dari mereka, telah Naik Kekemulian Tuhan}. Tentang pemikiran, pemahaman nilai kebangsaan dan toleransi dari ke 2 {Dua} Tokoh kawakan  itu. Walau ke 2 (Dua)  orang Punggawa itu, hidup dalam zaman dan generasi yang berbeda. Penghargaan dari Jenderal dapat diberikan, kepada keturunan dan ahli waris sah, dari ke 2 {dua} tokoh yang layak kita beri hormat itu.
          
PENUTUP  :
          Sebagai akhir dari artikel ini, penulis mencatat  dialog singkat penulis dengan putra kami Tarsis,  didepan Komputer saat artikel ini  hampir selesai digoreskan. Dia penasaran ketika membaca dan membantu kami mengoreksi goresan ini.  Anak ketiga kami itu bertanya Inikan : “CATATAN PINGGIR, dimana CATATAN UTAMA  Papa?. Tanya Nya dengan wajah serius. “Biarkanlah Prajurit dan warga Bala Keselamatan, diseantero Bumi Tadulako itu yang menuliskannya. Dibantu oleh Saudara Mama Mu [Opa-Oma, Om dan Tante dan Kakak-Kakak Sepupu Mu}di Palu sana.  Kita berharap tahun depan, mereka dapat sajikan kepada peminat Majalah Berita Keselamatan ini. Untuk kita baca dan ulas bersama Bang”, Jawab penulis sebutan untuk anak Ketiga kami itu dengan senyum. Bagaimana pandangan Saudara ?. Sukses untuk anda. {N 4 }

***Penulis: Pengamat Sosial dan Kemasyarakatan, berdomisili di Pinggiran Ibukota dan Alumni Pascasarjana Sekolah Tinggi Theologi Jakarta. dapat dihubungi di monas_ku@yahoo .co.id         



Tidak ada komentar:

Posting Komentar